Kamis, 8 Desember 2022
spot_img
BerandaSrikandiIke Rahmawati Jadikan Keluarga Sebagai Support System dalam Mengabdi

Ike Rahmawati Jadikan Keluarga Sebagai Support System dalam Mengabdi

MENJALANI profesionalitas sebagai wanita karier sekaligus menjadi ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Meski pembagian waktu antara keduanya sudah dilakukan semaksimal mungkin, tetap saja ada hal-hal yang mesti dikorbankan.

Ike Rahmawati,A.Md.I.P.,S.H.,M.H. sudah 11 tahun lamanya mengabdikan diri sebagai Aparatur Sipil Negara sejak menyelesaikan pendidikannya. Kini, Ike didapuk sebagai Kepala Lapas (Kalapas) Perempuan Kelas IIA Palembang.

Berbagai kendala ia temui selama memberikan layanan di lembaga pemasyarakatan. Mulai dari hal yang sederhana hingga yang terbilang menantang. Di sisi lain, Ike tetap harus fokus hadir dalam keluarga sebagai istri bagi suaminya serta Ibu bagi dua orang anak perempuannya.

Ike tertarik dengan bidang tugas yang digelutinya saat ini. Sebab, dengan tugasnya itu, Ike bisa membina, membimbing dan mengayomi WBP. “Saya dapat mengabdikan diri dan ilmu yang didapatkan dari AKIP kepada bangsa dan negara. Saya juga bisa mengetahui karakter manusia satu sama lainnya. Masih banyak orang yang susah dan menderita diluar sana, membuat saya menjadi lebih bersyukur dengan hidup saat ini,” imbuhnya.

Berbekal pengalaman yang didapatnya saat kuliah di DIII di Akademi Ilmu Pemasyarakatan (sekarang disebut juga Poltekip-Politeknik Ilmu Pemasyarakatan) tahun 1998, lalu melanjutkan pendidikan S1 dan S2 di Lampung pada tahun 2006 serta 2011, Ike mengawali karier sebagai pegawai di Kemenkumham.

“Saya mengawali karier sebagai pejabat struktural itu dimulai pada tahun 2011 dari Kepala Seksi (Kasi) Binadik. Di tahun 2017 menjadi Kepala Bapas Kelas II Bandar Lampung. Pada tahun 2020 menjadi Kepala Rutan Kelas II Surabaya. Kemudian dipindahkan sebagai Kalapas Perempuan Kelas IIB Batam dan saat ini menjadi Kalapas Perempuan Kelas IIA Palembang,” ungkapnya.

Di Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang, Ike dan jajarannya berperan memaksimalkan pembinaan kemandirian warga binaan, meliputi kegiatan tata boga, hidroponik, menjahit, handycraft, nail art, dan laundry bekerjasama dengan stakeholder. Hal ini agar WBP lebih produktif dan kreatif dalam membangun usaha.

“Kami mengoptimalkan pembinaan kepribadian warga binaan seperti target khatam Alquran di bulan suci Ramadhan, membaca tulis Alquran, rutin mengadakan kebaktian di gereja lapas dan kegiatan keagamaan lainnya. Selain itu, juga dilakukan peningkatan sumber daya manusia kepada pegawai dengan rutin diadakannya transfer knowledge, pemberian reward kepada pegawai teladan,” pungkas Ike.

Ike memiliki prinsip atau value tertentu dalam menjalankan tugas sebagai Kalapas Perempuan Kelas IIA Palembang. Yakni, mengedepankan aturan, menerapkan SOP yang berlaku dan disiplin. “Tentunya saya selalu berupaya mengedepankan aturan. Bekerja sesuai dengan SOP yang berlaku, serta disiplin,” imbuhnya lagi.

Ketika ditanya, pengalaman menarik saat berinteraksi dengan WBP?

“Pada saat bekerja di Rutan Perempuan Surabaya, pada saat itu Rutan Perempuan Surabaya masih menempati sebagian besar blok di Rutan Kelas I Medaeng, harus pindah gedung di daerah Porong. Karena WBP sudah merasa nyaman berada di Medaeng maka tidak mau pindah. Mereka mengancam kalau pindah Karutan-nya akan di demo. Namun dengan keyakinan dan tekad yang bulat juga diwajibkan oleh pimpinan untuk pindah di tempat yang lebih bagus, Saya bersama tim dengan mengucapkan bismillah melaksanakan pemindahan WBP pukul 02.00 WIB dini hari. Singkat cerita setelah pindah beberapa bulan ada wabah pandemi Covid-19. Saat itulah para penghuni bersyukur karena sudah memiliki rumah sendiri dan bisa bernapas lebih lega. Apabila masih di Medaeng, pastinya berdesak-desakan dan rawat penyebaran Covid-19,” tuturnya.

Dalam menjalankan tugasnya di Lapas, perempuan yang memiliki dua anak ini mengaku banyak yang harus dikorbankan, mulai dari waktu, tenaga maupun pikiran. Namun, Alhamdulillah keluarga memahami tugasnya.

“Peran dan dukungan keluarga tentunya sangat penting sebagai supporting system, mengingat sebagai abdi negara tentunya banyak yang harus dikorbankan. Dari waktu, tenaga maupun pikiran. Saat ini saya memiliki dua orang anak perempuan yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Insitut Pertanian Bogor, dan yang bungsu sedang menjalani pendidikan di Politeknik Ilmu Pemasyarakatan. Alhamdulillah saya memiliki keluarga dan anak-anak yang sangat mengerti tentang tugas ibunya,” tuturnya.

Begitupun, Ike juga tak melupakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga.

“Tentunya dengan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin tanpa melupakan kewajiban saya sebagai Ibu Rumah Tangga. Oleh karenanya, bersama keluarga, saya juga kerap olahraga golf dan bersepeda di pagi hari. Selain menyenangkan, aktivitas tersebut membantu refreshing pikiran serta penat dalam bekerja,” demikian Ike. (Angelina)

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

TERPOPULER

KOMENTAR TERBARU