Kamis, 19 Mei 2022
spot_img
BerandaProPASLapas Kelas IIA Bagansiapiapi Ubah Bahan Baku Besi Jadi Karya Seni Bernilai...

Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi Ubah Bahan Baku Besi Jadi Karya Seni Bernilai Jual Tinggi

Bukan rahasia bahwa besi sebagai bahan baku pembuatan alat rumah tangga memiliki banyak keunggulan. Tidak hanya awet dan tahan lama, besi juga terkenal tahan karat dan mudah dibersihkan. Meskipun dalam proses pembuatannya perlu teknik pengelasan tertentu hingga akhirnya menghasilkan produk kebutuhan rumah tangga  dan kantor berdaya saing tinggi.

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bagansiapiapi memilih program pengelasan besi sebagai kegiatan pembinaan bagi para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi, Yopi Febrianda, A.Md.P, SH, MH mengungkapkan sejauh ini Lapas berkomitmen serius untuk mengembangkan skill dan keterampilan melalui program pengelasan besi menjadi produk bernilai ekonomi.

Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi merupakan lapas terpadat se-Indonesia dengan over kapasitas mencapai 850 persen. Lapas yang seharusnya berkapasitas 98 orang ini kini dihuni 895 orang di bangunan dan lahan seluas 3700 meter persegi.

“Menurut saya kita harus optimis dalam melaksanakan pembinaan kepada WBP. Selama ini,  banyak cerita mantan narapidana yang bisa sukses setelah keluar dari Lapas/Rutan. Sebagai Pembina, kami selalu berusaha semaksimal mungkin agar para WBP menyadari kesahannya, mengubah perilakunya dari hal yang kurang baik menjadi lebih baik. Harapannya, agar ketika kembali ke tengah masyakat dapat di terima dan bermanfaat bagi lingkungan dan keluarga,”ujarnya.

Komitmen Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi terhadap pengembangan kemampuan WBP-nya dibuktikan dengan menggandeng lembaga professional yang kompeten untuk memberikan pelatihan dan penilaian. Untuk program pengelasan berbahan baku besi ini, Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi berkerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

Yopi mengungkapkan, awalnya petugas Lapas akan mendata WBP yang akan mengikuti pelatihan manufaktur pengelasan. Setelah itu, barulah tim PKBM Rokanhilir memberikan pelatihan dasar sampai WBP mempunyai kemampuan dan skill pengelasan sesuai dengan standar. Sejauh ini dari pelatihan yg sudah diberikan kepada 20 WB, tersisa lima orang WBP yang mampu menciptakan produk unggulan di Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi berupa produk hasil pengelasan seperti rak bunga minimalis, meja kantor minimalis, teralis pintu dan jendela, jemuran, dan yang lainnya.

“Kelebihan produk dari WBP Lapas Bagansiapiapi adalah mempunyai kekuatan lebih baik, lebih tahan lama, bentuknya jauh lebih bervariatif ketimbang produk serupa di pasaran. Kami juga dapat membuat kerajinan sesuai dengan keinginan konsumen (custom design) dengan harga yang tentu saja bersaing,” imbuh Yopi.

Program pengelasan besi sebagai kegiatan pembinaan bagi para Warga Binaan Pemasyarakatan.

Untuk pengerjaan satu buah meja kantor minimalis diperlukan bahan baku berupa 2 Batang Besi holo berukuran 30×60 cm dan ketebalan 3 mm, 1 Batang Besi strep ukuran 1,5 mm, Triplek ukuran 1m x 70 cm, tebal 15 mm dan APL, cat minyak, tiner serta dempul. Proses pembuatannya diawali dengan pembentukan rangka meja dengan pengelasan, setelah itu pendempulan dan pengecetan rangka meja.  Kemudian pemotongan triplek dan dilapisi dengan APL. Setelah semua selesai barulah triplek dan rangka meja di gabungkan dengan cara pemasangan dengan baut sekrup. Proses pemuatan meja kantor milimalis tersebut memakan waktu dua hari dengan modal awal Rp800 ribu dan harga jual Rp1 juta.

Sementara untuk kebutuhan rumah tangga seperti jemuran pakaian lipat ukuran 3×1 m, bahan yang dibutuhkan adalah 4 batang besi holo berukuran 20×20 cm dan ketebalan 2,5 mm, ½ batang besi pipa ukuran 1 inchi, tebal 2,5 mm, ½ batang besi suki ukuran 40×40 cm, 10 buah baut ukuran 10 mm, 2 buah baut ukuran 12 mm, cat minyak, tiner serta dempul. Durasi pengerjaan jemuran ini lebih singkat, yakni hanya satu hari meliputi: Besi di potong-potong, lalu dirangkai sesuai dengan bentuk yang di inginkan dengan cara pengelasan. Setelah itu dilakukan pendempulan dan pengecatan. Biaya produksi yang dikeluarkan adalah Rp500ribu dengan harga jual Rp 600 ribu per produknya. Seluruh pengerjaan manufaktur pengelasan dilakukan di bengkel Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi.

“Untuk omset yang didapat berbeda-beda, tergantung pemesanan dari customer. Semakin banyak pesanan maka semakin banyak juga omzet yang di dapat. Sementara keuntungan dari satu item barang antara Rp100 ribu -Rp200ribu,” terang Yopi.

Meskipun kini promosi dan kegiatan marketingnya masih terbatas karena pandemi Covid-19, produk hasil manufaktur pengelasan WBP Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi sudah mendapat apresiasi dengan dibeli dan digunakan oleh Bupati dan Kepala BPN Kabupaten Rokan Hilir.

Melihat sambutan positive ini, pada Maret 2021, Yopi berencana memberikan pelatihan manufaktur pengelasan kembali pada 20 WBP. Selain itu, dirinya pun bertekad mengusahakan agar WBP bisa menjadi wirausaha saat bebas nanti.

“Harapannya nanti yang ingin membuka usaha akan kami kasih modal sesuai keahlian yang dimiliki. Rencananya kami akan bekerja sama dengan BAZNAS Kabupaten Rokan Hilir. Tentunya dalam menentukan WBP yang mendapat bantuan harus berdasarkan penilaian yang ketat, baik secara perubahan perilakunya maupun dilihat kesungguh-sungguhan dalam mengikuti pembinaan dan keterampilan yang diberikan,” pungkas Yopi. (Ramos)

spot_img

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

TERPOPULER

KOMENTAR TERBARU