Kamis, 8 Desember 2022
spot_img
BerandaSrikandiBekerja dengan Cinta Ala Yekti Apriyanti

Bekerja dengan Cinta Ala Yekti Apriyanti

DALAM setiap pekerjaan pasti ada kendala yang kerap kita temui. Walaupun profesi tersebut adalah impian yang kita gemari sekali pun. Namun tantangannya adalah justru bagaimana mengelola sikap dalam menghadapi kendala tersebut. Apakah merutuki kesulitan yang ada atau justru memilih tetap mencintai pekerjaan dan bersemangat mengatasi berbagai kendala.

Seorang Yekti Apriyanti A.Md.IP.,S.Pd.,M.Si. tentunya lebih memilih opsi kedua, Perempuan yang kini menjabat sebagai Kepala Lapas Kelas IIA Tangerang, sejak Desember 2021 ini memang dikenal sangat gigih dan pekerja keras. Terhitung sudah 23 tahun lamanya Yekti mengabdikan diri sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang pemasyarakatan. Kurun waktu yang tidak sebentar tersebut tentunya dijalani Yekti dengan tidak mudah.

Dirinya menempuh pendidikan di Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) yang kemudian diteruskan ke Universitas Sriwijaya hingga mendapat gelar Sarjana Pendidikan di Tahun 2002. Yekti melanjutkan ke tingkat Magister Administrasi Publik dan berhasil lulus di tahun 2014.

Dirinya mengawali karir sebagai Staf di Bapas kelas I Palembang. Kemudian dilanjutkan sebagai Kepala KPLP di Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang selama 8 tahun hingga akhirnya di 2015 diberi amanah sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan pertama di Lapas Perempuan Kelas III Sigli.

Yekti kembali mengalami mutasi ke Palembang dan diminta memimpin Rupbasan Kelas I Palembang. Selanjutnya secara berturut-turut dirinya menjabat sebagai Ka Bapas Kelas II Lahat, Karutan Perempuan Kelas IIA Medan, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIB Bengkulu, dan sekarang menjabat sebagai Kepala Lapas Kelas IIA Tangerang.

Yekti Apriyanti bersama dua anaknya

“Pemasyarakatan bukan hal yang awam bagi saya, karena ayah saya adalah seorang PNS di bidang Pemasyarakatan. Dorongan dan motivasi orang tua serta pandangannya terhadap Pemasyarakatan memacu saya untuk dapat berkecimpung dan berkontribusi serta memotivasi saya untuk meniti karir sebagai ASN khususnya di bidang Pemasyarakatan. Itulah sebabnya dimulai dengan saya memilih Akademi Ilmu Pemasyarakatan sebagai dasar pendidikan saya setelah tamat SMA dan dari AKIP itu saya lebih mengenal hingga mencintai Pemasyarakatan hingga saat ini,” ujar Yekti soal alasannya menjadi ASN di lembaga pemasyarakatan.

Sebagai Kalapas Kelas IIA Tangerang, Yekti bertanggung jawab terhadap menetapkan perencaan program, membangun Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani serta monitoring dan Evaluasi secara berkala.

“Sebagai Kalapas dan pelayan masyarakat, ada tiga pengguna layanan yang harus saya layani, yakni pegawai, Warga Binaan Pemasyarakatan dan masyarakat luar. Ketiga unsur tersebut memiliki tantangan yang berbeda. Heterogenitas pegawai menjadi hal yang menarik dan menjadi tantangan tersendiri, pemberian hak -hak warga binaan terutama pembinaan kepribadian dan kemandirian narapidana ,hingga terselenggaranya kondisi keamanan dan ketertiban yang kondusif pun menjadi hal yang sangat penting,” papar Yekti soal tantangan yang dialami.

Namun dirinya berusaha menyiasati dengan memberikan role model yang baik kepada bawahan serta menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik. Selain itu strategi tersebut juga didukung dengan beberapa program reguler yang ditujukan ke WBP maupun petugas. Mulai dari Apel pagi dan sore hingga coffee morning. Dirinya juga melakukan koordinasi dengan pihak eksternal seperti Aparatur Penegak Hukum lainnya misalnya Polisi, TNI, BNN Kota, Lembaga-lembaga bantuan hukum, Pengadilan, Kejaksaan dan instansi terkait lainnya untuk melakukan sinergitas.

“Yang selalu saya sampaikan adalah ‘Bekerja dengan Cinta’ agar semua pekerjaan yang kita lakukan diiringi dengan hati yang gembira dan semua itu akan berdampak positif terhadap hasil pekerjaan kita,” ujarnya.

Meski demikian, Yekti mengaku di awal bekerja menjabat sebagai Kepala Lapas Perempuan Kelas III Sigli, jauh dari keluarga adalah kendala yang paling utama. Pada saat itu anak-anaknya masih kecil dan membutuhkan kehadirannya. Beruntung dirinya mendapat support dan komunikasi yang baik sehingga semua keluarga dapat memahami.

“Saya menjadi wanita berkarir sudah 23 tahun dan tentunya saya sudah mampu menyiasati waktu antara pekerjaan dan keluarga, membuat skala prioritas adalah salah satu hal terpenting. Tidak berat sebelah antara pekerjaan dan keluarga. Mengkomunikasikan baik dengan keluarga tentang pekerjaan dan membuatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan. Bekerja dengan cinta membuat semuanya dapat berjalan dengan seimbang. Memanfaatkan teknologi dalam bekerja dan berkomunikasi sangat membantu sekali dalam menyeimbangkan keduanya,” papar Yekti. (Melkisedek)

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

TERPOPULER

KOMENTAR TERBARU