Kamis, 19 Mei 2022
spot_img
BerandaSosokNUR AZIZAH RAHMANAWATI, S. Psi., M. Si.: “Melek Rasa” dalam Melayani dan...

NUR AZIZAH RAHMANAWATI, S. Psi., M. Si.: “Melek Rasa” dalam Melayani dan Memimpin dengan Hati

Tidak pernah bermimpi menjadi PNS, tetapi jalan hidup membawanya berlabuh ke Kementerian Hukum dan HAM. Bahkan dia tercatat sebagai perempuan pertama yang menjabat Kepala Bagian Tata Usaha Pimpinan di kementerian tersebut.

Kisah bermula pada tahun 2002, Ketika Nur Azizah Rahmanawati masih menjadi asisten dosen di almamaternya, Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung. Saat itu ada penerimaan CPNS di Departemen Hukum dan HAM, maka dia ikut tes seleksi. Pada saat bersamaan, dia melamar juga ke Pemda Cianjur serta PT Telkom. Pada tahun 2003, setelah menjalani berbagai proses tes dan wawancara selama kurang lebih 1 tahun, dia pun diterima di 3 tempat itu.

“Setelah mendapat saran dari orang tua dan suami, serta sholat istikharah minta petunjuk Allah, akhirnya saya memilih Departemen Hukum dan HAM,” ujar Nur kepada Zona Integritas, beberapa waktu lalu.

Pada April 2004, Nur menjalani tugas pertamanya di Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Subbagian Umum Kepegawaian dan diperbantukan di Subbag Humas dan Protokol). Setelah itu diperbantukan di Pusdiklat yang kemudian berubah menjadi BPSDM Hukum dan HAM.

Bulan Maret 2010, Nur pindah ke Kanwil Jawa Barat ditempatkan sebagai staf di bagian PPL dan di Divisi Pemasyarakatan. Pada Oktober 2013 dipromosikan sebagai Kepala Subbagian Tata Usaha Menteri (perempuan pertama yang menjabat posisi itu) dan pada Januari 2017 menjadi Kepala Bagian Tata Usaha Pimpinan (perempuan pertama yang menjabat posisi itu).

Nur pun menjalani karirnya hingga kini dengan penuh rasa syukur dan Bahagia, sehingga selalu siap ditempatkan dimanapun dan bertekad akan terus bekerja sebaik mungkin bersama tim kerja yang solid, demi memberikan pelayanan terbaik kepada pimpinan.

“Kami mengadopsi nilai-nilai yang ditanamkan Bapak Sekjen (Bambang Rantam Sariwanto) untuk mengutamakan komitmen, konsisten dan ketahanan dalam bekerja,” ujar Nur.

Tak heran bila sulung dari tujuh bersaudara ini selalu menempatkan pimpinan layaknya orangtua yang harus dilayani dengan baik. Sementara dalam memperlakukan tim kerja, dia memegang prinsip menghormati kepada yang tua, menyayangi kepada sesama, dan mengayomi kepada yang lebih muda.

“Saya berusaha menjadi pemimpin yang memiliki peran sebagai mentor, motivator, fasilitator, kontroler untuk tim, dan berusaha mengkader teman-teman di Bagian TU PIM yang memang berpotensi karena kinerjanya yang bagus. Karena prinsip saya, pemimpin yang hebat itu adalah yang bisa mengkader timnya untuk menjadi pemimpin berikutnya,” ujar Nur.

Dia merasa beruntung dapat belajar banyak dan menyerap energi positif dari para pimpinan yang hebat dan luar biasa di Kemenkumham, antara lain dari Menkumham Yasonna H. Laoly yang cerdas dan lugas komunikasinya, dan Sekjen Kemenkumham Bambang Rantam Sariwanto yang inovatif, kreatif, serta selalu mengedepankan komitmen dan semangat yang luar biasa sehingga hasil kerja pun optimal.

“Belum lagi para pimpinan tinggi madya lainnya yang juga merupakan sosok yang hebat dan berprestasi, sehingga menjadikan Kemenkumham lebih PASTI. Pokoknya banyak nilai-nilai positif yang didapat selama bekerja, khususnya di Bagian Tupim,” kata Nur.

Tugas dan Tanggung Jawab

Melaksanakan urusan pelayanan tata usaha pimpinan (menteri, sekretaris jenderal, staf ahli dan staf khusus serta penasehat kehormatan menteri) menjadi rutinitas sehari-hari ibu satu anak ini.

Menjadi Kabag Tupim artinya Nur juga bertanggung jawab menyiapkan konsumsi di acara yang melibatkan menteri, sekjen, pimti madya, antar unit maupun tamu dari luar instansi. Meski terkesan mudah, namun urusan hidangan ini tidak bisa dianggap remeh.

Selain harus disiapkan sebaik mungkin melalui proses konsultasi dan koordinasi antar penanggung jawab acara, juga harus disesuaikan dengan selera pimpinan. “Jadi tidak bisa sembarangan,” katanya. “Harus pandai memilih dan memilah menu, juga tepat dalam hal memadupadankan varian makanan dan minuman,” tambahnya.

Pernah suatu ketika, Nur memberikan kesempatan kepada jajaran untuk memilih menu sendiri supaya mereka bisa berlatih memutuskan menu apa yang akan disajikan. Ternyata hasilnya malah menuai teguran dari atasan karena dianggap salah memilih hidangan.

“Waktu itu saya memberi keleluasaan serta kewenangan kepada jajaran, karena kalau tidak pernah diberi kesempatan, mereka tidak akan pernah percaya diri. Hasilnya saya malah dimarahi Pak Sekjen. Tapi alhamdulillah, sekarang tim sudah pada pintar semua,” ujar Nur tertawa.

Agar tugas tim bisa terkoordinir secara rapi, pada tahun 2019 Nur membuat PEKERTI (PEdoman KERja Tata Usaha dan Informasi) TUPIM dengan tata nilai ADABtif (berADAB dan inovaTIF) serta ADABtasi (berADAB dan berpresTASI).

Menurut Nur, bekerja di Bagian Tupim, artinya harus selalu meminta arahan dan bimbingan dari pimpinan, jangan pernah sok tahu, harus terus mau belajar. Serta membuka hati, pikiran dan diri untuk dapat menerima segala kritik, saran dan masukan yang membangun.

“Sehingga hampir tidak ada kendala dalam pekerjaan, karena selalu ada arahan dan bimbingan dari pimpinan. Namun dibutuhkan kemampuan berkomunikasi serta mampu bersikap sopan dalam menghadapi pimpinan dengan beragam karakter, jadi diperlukan fleksibilitas dan kemampuan adaptasi yang tinggi,” katanya.

Nur merasa beruntung dikelilingi Tim Tupim yang hebat dan berkinerja baik, sehingga bisa bekerja dengan hati yang bahagia. Namun dia mengaku terkadang jadwal kerjanya mengorbankan waktu untuk keluarga, karena sering harus masuk kerja di waktu libur. “Tapi alhamdulillahnya selalu didukung penuh oleh suami dan anak, sehingga hal itu tidak menjadi kendala yang berarti. Karena mereka paham konsekuensi dari suatu jabatan dan pekerjaan,” tuturnya.

Nur mengaku jarang mengalami kejenuhan, tapi untuk refreshing, biasanya tiap bulan dia menyempatkan diri mengunjungi anak-anak yatim di Yatim Village di Bogor. Sesekali juga berlibur bersama keluarga meski hanya sekedar makan dan nonton  film. “Karena saat ini keluarga di Bandung dan saya di Jakarta. Jadi seminggu atau dua minggu sekali pasti pulang ke Bandung, itu juga bisa jadi refreshing untuk saya,” katanya.

Nur berharap ke depannya bisa terus berkontribusi aktif dan positif untuk mendukung kemajuan organisasi dan Kemenkumham yang dia cintai. “Khususnya untuk teman-teman di Bagian TU PIM ke depan bisa menjadi calon pemimpin yang baik dan hebat,” ujarnya. TIN

 

Biodata Singkat

Nama : Nur Azizah Rahmanawati, S. Psi., M. Si.

TTL : Bandung, 2 Maret 1978

Nama Suami : Gunadi (Wiraswasta)

Nama Anak : Celine Nadia Jahara (15 tahun, kelas 1 MAN 1 Bandung)

Nama orangtua : H. Lukman Hakim, Ask dan Hj. Titin Faridah Nurhayati

Hobby : Membaca buku-buku motivasi

Riwayat Pendidikan :

  • SDN Siliwangi Cianjur
  • SMPN II Karang Tengah Cianjur
  • SMAN I Cianjur
  • S1 Psikologi Universitas Islam Bandung (cumlaude)
  • Profesi Psikolog Universitas Islam Bandung (lulusan terbaik)
  • S2 Ilmu Adminitrasi Kebijakan Pelayanan Publik Universitas Indonesia (cumlaude)

Motto hidup : Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat untuk manusia lainnya.

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

TERPOPULER

KOMENTAR TERBARU