Kamis, 19 Mei 2022
spot_img
BerandaBeritaCapai 35,34 Miliar Dolar AS, Surplus Neraca Perdagangan RI Tertinggi Dalam 15...

Capai 35,34 Miliar Dolar AS, Surplus Neraca Perdagangan RI Tertinggi Dalam 15 Tahun

Jakarta-Sinergi ekspor dan impor Indonesia tahun 2021 memperoleh pencapaian positif pada neraca perdagangan. Sepanjang 2021, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai 35,34 miliar Dolar AS.

Nilai surplus tersebut merupakan rekor tertinggi sejak 15 tahun terakhir atau sejak 2006. Pada tahun tersebut nilai surplus mencapai 39,37 miliar Dolar AS.

“Di tengah berbagai ketidakpastian global, Indonesia tetap mampu mencatatkan performa impresif pada neraca perdagangan. Kinerja ini akan meningkatkan resiliensi sektor eksternal Indonesia,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dikutip dari laman Kemenko Ekonomi, Selasa (18/01/2022).

“Sehingga semakin kuat menghadapi berbagai tantangan yang diperkirakan masih berlanjut di tahun ini,” tambahnya lagi.

Sekadar informasi, Indonesia kembali mengalami surplus sebesar 1,02 miliar Dolar AS, pada Desember 2021. Hal ini, membawa tren surplus kembali dapat bertahan sejak Mei 2020 atau selama 20 bulan berturut-turut.

Adapun sepanjang 2021 dari nilai ekspor yang mencapai 231,54 miliar Dolar AS. Atau tumbuh double digit sebesar 41,88 persen (year-on-year atau yoy). Penopang kinerja surplus neraca perdagangan Indonesia.

Hilirisasi Komoditas Unggulan

Hilirisasi komoditas unggulan, seperti turunan produk crude palm oil (CPO) berhasil mendorong performa ekspor Indonesia. Hal tersebut tercermin dari ekspor komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati (HS 15). Yakni sepanjang 2021 mencapai 32,83 miliar Dolar AS atau meningkat sebesar 58,48 persen (yoy).

Selain CPO, hilirisasi komoditas nikel juga memperkuat performa ekspor Indonesia. Yakni, dengan pertumbuhan ekspor komoditas nikel dan barang daripadanya (HS 75) mampu tumbuh sebesar 58,89 persen (yoy) menjadi sebesar 1,28 miliar Dolar AS.

Lebih lanjut, dari 10 besar komoditas utama ekspor, komoditas bijih logam, terak, dan abu (HS 26) mengalami pertumbuhan tertinggi yakni 96,32 persen (yoy) menjadi sebesar 6,35 miliar Dolar AS. Lalu ekspor komoditas besi dan baja (HS 72), yang juga naik signifikan mencapai 92,88 persen (yoy) menjadi senilai 20,95 miliar Dolar AS.

“Pencapaian ini mengindikasikan pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut. Tercermin pula dari meningkatnya penciptaan nilai tambah pada sektor manufaktur. Terbukti secara kumulatif, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Desember 2021 naik. Dari 35,11 persen (yoy) menjadi sebesar 177,11 miliar Dolar AS,” kata Airlangga. 

Selain itu, level Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga terus berada pada zona ekspansif. Yakni 53,5 pada Desember 2021, melanjutkan level ekspansi yang sudah terjadi selama empat bulan berturut-turut. (Mursal)

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

TERPOPULER

KOMENTAR TERBARU