YAMITEMA Laoly mendorong generasi muda Indonesia untuk tidak takut memulai usaha dan membangun kemandirian ekonomi sejak dini. Menurutnya, peluang usaha saat ini semakin terbuka seiring berkembangnya teknologi digital, media sosial, serta perubahan pola konsumsi masyarakat.
Yamitema menilai salah satu hambatan yang kerap dihadapi anak muda justru muncul dari rasa takut gagal dan keinginan untuk menunggu segala sesuatu berada dalam kondisi sempurna sebelum memulai.
“Jangan tunggu sempurna untuk memulai. Banyak usaha besar justru lahir dari langkah kecil, keberanian mencoba, kemudian terus belajar dan memperbaiki kekurangan sepanjang perjalanan,” ujar Yamitema.
Menurutnya, memulai usaha tidak selalu harus dengan modal besar. Anak muda dapat memanfaatkan keterampilan, kreativitas, jejaring pertemanan, hingga platform digital yang saat ini tersedia secara luas.
Berbagai bidang seperti kuliner, industri kreatif, jasa, fesyen, teknologi, olahraga, hingga pemasaran digital dapat menjadi peluang yang dikembangkan sesuai kemampuan dan kebutuhan pasar.
“Yang paling penting adalah mengenali kemampuan diri, melihat kebutuhan di sekitar kita, kemudian berani mengambil langkah pertama. Jangan terlalu takut dengan kegagalan karena dalam dunia usaha, kegagalan juga merupakan bagian dari proses belajar,” katanya.
Yamitema juga mengingatkan bahwa keberanian memulai usaha harus dibarengi dengan kedisiplinan dan kemampuan mengelola keuangan. Anak muda perlu membedakan antara keberanian mengambil peluang dengan keputusan bisnis yang dilakukan tanpa perhitungan.
Menurutnya, pelaku usaha pemula juga harus membangun kebiasaan sederhana seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran, menjaga kualitas produk atau layanan, mendengarkan masukan konsumen, serta terus meningkatkan kemampuan.
“Usaha tidak harus langsung besar. Mulai dari apa yang kita punya, kerjakan dengan serius, jaga kepercayaan konsumen, dan konsisten. Ketika fondasinya kuat, usaha akan memiliki ruang untuk berkembang,” ujarnya.
Di tengah tantangan lapangan pekerjaan dan perubahan dunia kerja, Yamitema berharap semakin banyak generasi muda memilih menjadi produktif dan menciptakan peluang ekonomi, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi masyarakat di sekitarnya.
Ia juga mendorong adanya ekosistem yang semakin mendukung pengusaha muda, mulai dari kemudahan memperoleh informasi, pelatihan kewirausahaan, akses pembiayaan yang sehat, pendampingan usaha, hingga ruang kolaborasi antarpelaku usaha.
“Anak muda Indonesia punya kreativitas dan energi yang luar biasa. Jangan hanya menjadi penonton dari perubahan. Kita harus berani mengambil bagian, menciptakan sesuatu, membuka peluang, dan kalau memungkinkan suatu hari justru membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain,” tutup Yamitema. (Sal)




